Kelistrikan Palu dapat diandalkan

Palu (ANTARA News) – Pemulihan aliran listrik yang dilakukan PT. PLN (Persero) pascagempa, tsunami dan likuifaksi melanda Kota Palu, Kabupaten Sigi, Donggala dan Parigi Moutong, 28 September 2018, tidak sekadar menyalakan lampu tetapi juga meningkatkan keandalan pasokannya.

Hanya dalam tempo kurang dari sepekan, sebanyak 1.500-an karyawan PLN yang dibantu para relawan yang berasal mitra-mitra perusahaan dari berbagai daerah di Indonesia, mampu menerangi kembali kota berpenduduk 400-an ribu jiwa yang sebelumnya gelap gulita bak kota mati itu.

Gempa bumi bermagnitudo 7,4 pada skala Richter ini meluluhlantakkan semua sendi-sendi fisik pelayanan kelistrikan BUMN sektor energi ini, baik distribusi maupun produksi, namun tidak untuk semangat dan motivasi para karyawannya.

Tercatat lima dari tujuh gardu induk yang menjaga keandalan tegangan listrik pada sistem kelistrikan Palu, rusak berat, 45 penyulang hancur, serta dua-ribuan gardu distribusi tidak bisa berfungsi. Itu belum termasuk ribuan tiang listrik yang patah dan roboh.

“Sampai saat ini masih puluhan gardu distribusi, terutama di daerah-daerah pedalaman dan sulit transportasi di Kabupaten Sigi dan Donggala, yang belum bisa kami fungsikan lagi karena tiang-tiangnya patah dan roboh,” ujar Syamsul Huda, Ditrektur Bisnis Regional Sulawesi PT. PLN.

Pasokan listrik semakin diperparah oleh kerusakan travo IBT berkapasitas 24 MW yang mengkonversi listrik dari sistem 150 KV ke sistem 70 KV yang dialirkan dari sistem Sulawesi Selatan, serta robohnya tiga tiang tinggi (tower) antara Poso-Sidera yang merupakan jalur distribusi tunggal interkoneksi kelistrikan Sulsel-Sulteng.

Kerusakan hebat juga menimpa sektor produksi karena Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Mpanau, milik anak perusahaan PT PLN yang menyuplai listrik 52 MW ke sistem kelistrikan Palu, hancur total.

Syukurlah, PLTD Silae masih bisa beroperasi dengan kapasitas 11 MW meski pembangkit itu dinilai rakus bahan bakar.

  Petugas memasukkan generator listrik milik PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) kedalam KMP Drajat Paciran di dermaga Jamrud Selatan, Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, Jawa Timur, Rabu (3/10/2018). PT PLN memberangkatkan 200 personil dari Unit Induk Distribusi Jawa Timur, Distribusi Jawa Tengah dan Yogyakarta, Distribusi Jawa Barat dan Banten serta 44 unit kendaraan tanggap darurat bencana untuk memulihkan infrastruktur kelistrikan di wilayah bencana gempa dan tsunami di Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah. ANTARA FOTO/Didik Suhartono/hp.

Saat ini, Kota Palu dan sekitarnya sudah terang benderang karena pasokan listrik pulih setelah semua kerusakan bisa diperbaiki dalam masa tanggap darurat ditambah lagi pengoperasin puluhan genset yang dipinjamkan kepada masyarakat yang pemulihan jaringannya butuh waktu agak lama.

Daya listrik sebesar 101 MW kini mengalir deras ke sistem kelistrikan Palu yang melayani sekitar 400.000 pelanggan di Kota Palu, Sigi, Donggala dan Parigi Moutong ini, dengan mendalkan pasokan dari sistem kelistrikan Sulawesi Selatan yang telah terinterkoneksi sejak beroperasinya PLTA Sulewana, Kabupaten Poso.

“Suplai daya ini memang belum sama dengan kapasitas sebelum gempa yang mencapai 125 MW, namun pasokan 101 MW itu sudah cukup aman bahkan berlebih sebab beban puncak saat ini hanya sekitar 77 MW,” ujar Samyul Huda.

Lebih andal

Huda menegaskan bahwa program pemulihan kelistrikan pada sistem Palu pascabencana ini dilaksanakan secara terencana dan dirancang hasil akhirnya akan lebih andal dibanding sebelum bencana terjadi.

Pemulihan dilakukan melalui program jangka pendek dan menengah dengan batas akhir Desember 2018, dan program jangka panjang yang membutuhkan waktu satu sampai dua tahun.

Ada tiga kegiatan pokok pemulihan aliran listrik dalam jangka pendek (masa tanggap darurat) dengan batas akhir Oktober 2018 yakni pemulihan gardu induk, travo, gardu distribusi, penyulang dan pengoperasian puluhan genset pada titik-titik yang jaringan listriknya rusak parah dan terisolasi sehingga butuh aktu lebih panjang memlihkannya.

Juga pemasangan tower emergency untuk menggantikan tiga tower yang roboh antara Kota Poso dan Gardu Induk Sidera di Kabupaten Sigi. Pemulihan tower ini bisa menambah pasokan daya dari sistem Sulsel ke sistem Palu sebanyak 92 MW.

“Program jangka pendek ini sudah selesai dan kini hampir semua wilayah Kota Palu, Sigi, dan Donggala sudah terang benderang dengan suplai daya 101 MW meski beban puncak baru 77 MW,” ujar Huda lagi.

Program jangka menengah dengan batas waktu sampai Oktober 2018 adalah mengganti travo IBT di Gardu Induk Sidera, yang berfungsi mengkonversi tegangan listrik dari sistem 150 KV ke sistem 70 KV agar listrik bisa dalirkan ke pelanggan.

Travo IBT yang rusak parah ini berkapasitas 24 MW, untuk sementara digantikan dengan travo IBT bergerak yang didatangkan dari Jatirangon, Jawa Barat, namun kapasitasnya hanya 10 MW.

“Sedang dalam proses penggantian dengan travo IBT yang baru yang kapasitasnya akan jauh lebih besar dibanding travo sebelum bencana terjadi,” ujarnya.

Sedangkan program jangka panjang yang akan dimulai Januari 2019 adalah mengganti PLTU Mpanau, Kecamatan Tawaeli, Kota Palu yang rusak berat dengan pembangkit baru.

Penggantian ini perlu agar suplai listrik ke sistem Palu tidak sepenuhnya bergantung pada pasokan dari sistem Sulsel, karena bila di Sulsel sendiri terjadi gangguan sedikit saja, maka sistem Sulsel-Sulteng yang telah terinterkoneksi itu bisa turun.

Salah satu alternatif penggantian PLTU Tawaeli yang berkapasitas 52 MW itu adalah mendatangkan kapal pembangkit listrik seperti yang dijanjikan Menteri BUMN Rini Sumarno saat berkunjung ke Palu, Senin 2 Oktober 2018.

Sedangkan alternatif lainnya adalah membangun PLTU baru yang kapasitasnya lebih besar dari PLTU yang ambruk saat ini.

Syamsul menyebutkan suplai daya sebesar 101 MW saat itu dinilai memadai hingga Desember 2018 dengan perhitungan bahwa kebutuhan listrik hingga akhir tahun ini hanya sekitar 90 MW sebab pelanggan-pelanggan besar yang menyerap 28 MW belum akan beroperasi karena kerusakan berat pada aset-aset mereka.

Selain itu, rumah-rumah penduduk yang sebelumnya menyerap daya 7 MW diperkirakan belum akan dibangun kembali dalam tempo dua-tiga bulan ke depan.

Bila seluruh program pemulihan ini berjalan normal, kata Huda, maka dia optimistis tidak akan ada pemadaman listrik secara bergilir pada sistem kelistrikan Palu.

Berbagai pihak mulai dari Wapres Jusuf Kalla, Menteri BUMN, Menteri ESDM, Guberur Sulteng sampai masyarakat Kota Palu dan relawan asing, memberikan apresiasi dan pujian kepada jajaran PLN atas sukses mereka memulihkan suplai listrik di Kota Palu dan sekitarnya hanya dalam beberapa hari pascabencana 28 September 2018.*

Baca juga: Listrik di Sulteng sudah normal

Baca juga: Kementerian ESDM sebut 1.910 gardu listrik Sulteng beroperasi

Pewarta:
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2018